header-int

Berkarakter Intelektual

, 24 Sep 2020, 00:00:00 WIB - 42 View
Share
Berkarakter Intelektual

Salam kawan-kawan semua, pada kesempatan kali ini saya mencoba sedikit mengulas mengenai “berkarakter Intelektual”. Kita tahu bahwa kedua kata tersebut merupakan unsur yang tidak dapat terpisahkan, ketika kita sebagai manusia ingin menjadi sosok orang yang ya katakanlah mendekati sempurna. Apabila salah satu dari kedua kata tersebut yang kita pakai maka “A’udzubillah min dalik”, tak bisa saya bayangkan namun sudah sering saya melihat dalam kehidupan yang seperti itu (memisahkan pasangan antara kata intelektual dan karakter).

 Langsung saja kawan kita urai satu persatu dari kata tersebut.

 1. Pengertian Dalam Kamus Besar KBBI

kata intelektual mempunyai arti

(1) a cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan;

(2) n (yg) mempunyai kecerdasan tinggi; cendekiawan;

(3) n totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yg menyangkut pemikiran dan pemahaman.

 Kata intelek juga berkonotasi untuk menyebut kaum terpelajar atau kaum cendekiawan.” Sedangkan kata intelektual berarti suatu sifat cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Kata intelektual juga berkonotasi sebagai kaum yang memiliki kecerdasan tinggi atau juga disebut kaum cendekiawan.

 Intelek berasal dari kosakata Latin: intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Dalam pengertian sehari-hari kemudian berarti kecerdasan, kepandaian, atau akal. Pengertian intelek ini berbeda dengan pengertian taraf kecerdasan atau intelegensi. Intelek lebih menunjukkan pada apa yang dapat dilakukan manusia dengan intelegensinya; hal yang tergantung pada latihan dan pengalaman.

 Dari yang saya ketahui kata intelektual itu tidak jauh beda dengan arti kata Intelegensi yang berarti Kecerdasan. Tingkat kecerdasan ini dapat diukur dan ditentukan kadar kecerdasannya berdasarkan sudut pandang penilaian tertentu. Pakar ahli juga banyak yang mempunyai pendapat mengenai intelektual diantaranya : - Adrew Crider (dalam azwar, 1996) mengatakan bahwa intelektual itu bagaikan listrik, mudah diukur tapi mustahil untuk didefenisikan. Kalimat ini banyak benarnya.

 Tes intelegensi sudah dibuat sejak sekitar delapan decade yang lalu, akan tetapi sejauh ini belum ada defenisi intelektua yang dapat diterima secara universal. - David Wechsler (dalam Azwar, 1996) mendefenisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif. –

 Istilah intelek berasal dari bahasa Inggris “intellect” yang menurut Chaplin (1981) diartikan sebagai :

a. Proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan;

b. Kemampuan mental atau itelegensi. - Dalam surat Ali Imron Ayat 190 – 191 Artinya :”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron : 190-191) Dari Ayat di atas dapat kita jumpai kata yang bercetak tebal yaitu “berakal” dan “memikirkan”. Dari masing-masing kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa Intelektual melibatkan yang namanya akal, dan intelektual merupakan proses pencarian Informasi (berfikir). Dari beberapa definisi diata dapat kita tarik kesimpulan, bahwa intelektual adalah kecerdasan berfikir manusia dalam menemukan suatu gagasan atau ide yang secarang singkat sesuai dengan situasi kondisi yang ada dan dapat mengaplikasikan dilapangan secara komprehensif dan tepat sasaran. Secara singkatnya bisa saya katakan bahwa Intelektual itu adalah kemampuan diatas rata-rata seseorang dalam berfikir, atau katakanlah pandai sanget, pinter sanget, dan lebih pintar dari yang pintar-pintar.

 

2. Faktor yang Mempengaruhi Intelektual

Intelektual seseorang sebenarnya sama antara satu orang dengan yang lain. Yang membedakan adalah sejauhmana pengaruh yang ada dalam mengasah intelegensi seseorang. Sebagaimana dalam sabda rasulullah saw.

 Artinya : "Dari Abi Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda: setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tualah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi". Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intelektual manusia, diantaranya : -

 Menurut Andi Mappiare (1982: 80), hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelektual antara lain :

1)        Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.

2)        Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir properasional.

3)        Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radiakal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

 Dari referensi lain didapatkan Tahapan perkembangan intelektual (perkembangan kognitif/perkembangan mental) anak selalu mengikuti tahapan-tahapan mulai dari sensori-motor (0 – 2 tahun), praoperasional (2 – 7 tahun), operasional konkret (7 – 11 tahun), dan selanjutnya operasional formal (11 tahun ke atas). Irama perkembangan pada setiap tahap berbeda-beda dari anak yang satu dengan anak yang lain. Interval yang diacu oleh Jean Piaget hanyalah acuan umum.

  Menurut hasil penelitian Piaget, ada 4 faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan intelektual (mental) anak, yaitu:

1)        Kematangan (maturation). Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan proses perubahan fisiologis dan anatomis akan mempengaruhi perkembangan kognitif. Faktor kedewasaan atau kematangan ini berpengaruh pada perkembangan intelektual tapi belum cukup menerangkan perkembangan intelektual.

2)        Pengalaman Fisik (Physical Experience). Pengalaman fisik terjadi karena anak berinteraksi dengan lingkungannya. Tindakan fisik ini memungkinkan anak dapat mengembangkan aktivitas dan gaya otak sehingga mampu mentransfernya dalam bentuk gagasan atau ide. Dari pengalaman fisik yang diperoleh anak dapat dikembangkan menjadi matematika logika. Dari kegiatan meraba, memegang, melihat, berkembang menjadi kegiatan berbicara, membaca dan menghitung.

3)        Pengalaman Sosial (Social Experience). Pengalaman sosial diperoleh anak melalui interaksi sosial dalam bentuk pertukaran pendapat dengan orang lain, percakapan dengan teman, perintah yang diberikan, membaca, atau bentuk lainnya. Dengan cara berinteraksi dengan orang lain, lambat laun sifat egosentris berkurang. Ia sadar bahwa gejala dapat didekati atau dimengerti dengan berbagai cara. Melalui kegiatan diskusi anak akan dapat memperoleh pengalaman mental. Dengan pengalaman mental inilah memungkinkan otak bekerja dan mengembangkan cara-cara baru untuk memecahkan persoalan. Di samping itu pengalaman sosial dijadikan landasan untuk mengembangkan konsep-konsep mental seperti kerendahan hati, kejujuran, etika, moral, dan sebagainya.

4)        Keseimbangan (Equilibration). Keseimbangan merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat fungsi kognitif yang semakin tinggi. Keseimbangan dapat dicapai melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi menyangkut pemasukan informasi dari luar (lingkungan) dan menggabungkannya dalam bagan konsep yang sudah ada padaotak anak. Akomodasi menyangkut modifikasi bagan konsep untuk menerima bahan dan informasi baru.

 3. Ciri-Ciri Berintelektual

1)        Mampu berpikir secara baik dan benar

2)        Memahami secara mendalam Sesuatu permasalahan

3)        Mempunyai keterampilan dan ilmu pengetahuan yang mendalam

4)        Kemampuan bernalar dan berpikir

5)        Senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi

6)        Mampu membedakan pertanyaan yang signifikan dengan pertanyaan sepele

7)        Mudah menangkap pelajaran.

 4. Cara Meningkatkan Intelektual (untuk mahasiswa)

1)        Aktif di Organisasi Kampus

2)        Banyak membaca buku-buku ilmiah (selain komik/novel dan sejenisnya)

3)        Suka untuk berdiskusi, dikelas, maupun di dalam forum khusus atau terbuka

4)        Mencari informasi sebanyak-banyaknya, baik dari buku, internet, dari temen, dan lain sebagainya.(carilah ilmu walau sampai ke negeri cina)

 @satep

COPYRIGHT STIT ATTAQWA
FAX : 225956675
TELP : 225956675
EMAIL : stitattaqwabandung@yahoo.com